Sabtu, 24 Desember 2011

istiqomah

A.      Pengertian Istiqamah
Ditinjau dari segi asal katanya, istiqamah merupakan bentuk mashdar dari kata istaqama yang berarti tegak dan lurus. Sedangkan dari segi istilahnya dan substansinya, menurut beberapa sahabat Nabi SAW digambarkan sebagai berikut :
Abu Bakar al-Shiddiq.
Suatu ketika orang yang paling besar keistiqamahannya ditanya oleh seseorang tentang istiqamah. Abu Bakar menjawab, istiqamah adalah bahwa engkau tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun.
Umar bin Khatab.
Umar bin Khatab pernah mengatakan: Istiqamah adalah bahwa engkau senantiasa lurus/konsisten dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, serta tidak menyimpang seperti menyimpangnya rubah.
Sedangkan makna istiqamah menurut Imam Nawawi adalah senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah.[1]

B.       Hadis yang menjelaskan tentang istiqamah
عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ [رواه مسلم]
Dari Abu ‘Amr-atau Abu ‘Amrah-, Sufyan bin ‘Abdullah, ia berkata: “Aku telah berkata: ‘Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu. ‘Bersabdalah Rasulullah: ‘Katakanlah: Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah kamu” (HR.Muslim).[2]
Makna hadis ini adalah :
Sufyan bin Abdillah bin Abi Rabi’ah bin Al-Harits Ats-Tsaqafi Radhiyallahu ‘Anhu berasal dari Thaif. Menjabat sebagai gubernur Thaif pada masa umar Radhiyallahu ‘Anhu. Muslim tidak meriwayatkan hadits Sufyan bin Abdillah dalam Shahihnya kecuali hadits ini. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan An-Nasai. Ibnu Hajar berkata dalam Al-Ishabah, “Sufyan masuk Islam bersama rombongan orang-orang Tsaqif dan berkata kepada nabi tentang suatu perkara yang dijadikan pegangan. Nabi berkata kepadanya, “katakanlah, “Tuhanku adalah Allah” kemudian Istiqomalah.”[3]
Dari pertanyaan sahabat di atas, yaitu Sufyan bin Abdillah Al-Tsaqafi r.a. tersirat bahwa iman dan istiqamah memiliki urgensitas yang tidak dapat digantikan dengan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan. Ini terlihat dari pertanyaan beliau kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, katakanlah padaku satu perkataan yang aku tidak perlu lagi bertanya pada orang lain selain padamu.” Kemudian rasulullah saw. menjawabnya dengan dua hal yang terangkai menjadi satu yaitu iman dan istiqamah.
Dua hal ini merupakan aspek yang sangat penting dalam keislaman seseorang. Karena Iman (sebagaimana digambarkan di atas) merupakan pondasi keislaman seseorang bagaimanapun ia. Tanpa Iman semua amal manusia akan hilang sia-sia. Sehingga tidak mungkin istiqamah tegak tanpa adanya nilai-nilai keimanan. Penggambaran Rasulullah saw. dalam hadits ini, seiring sejalan sekaligus menguatkan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an tentang istiqamah (QS. Fusshilat : 30).


“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”
               
Kalimat dalam hadist: “katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu” maksudnya adalah ajarkanlah kepadaku satu kalimat yang pendek, padat berisi tentang pengertian Islam yang mudah saya mengerti, sehingga saya tidak lagi perlu penjelasan orang lain untuk menjadi dasar saya beramal. Maka Rasulullah saw.menjawab: “Katakanlah: ‘Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah kamu.” Ini adalah kalimat pendek, padat berisi yang Allah berikan kepada Rasulullah.[4]
Dalam dua kalimat ini telah terdapat pengertian iman dan islam secara utuh. Beliau menyuruh orang tersebut untuk slalu memperbarui imannya dengan ucapan lisan dan mengingat di dalam hati, serta menyuruh agar kita secara teguh melaksanakan amal-amal shalih dan menjauhi semua dosa. Hal ini karena seseorang tidak dikatakan istiqamah jika ia menyimpang walaupun hanya sebentar.
Umar bin Khattab berkata: “Mereka (para sahabat) istiqamah demi Allah dalam mentaati Allah da tidak sedikit pun mereka itu berpaling, sekalipun seperti berpalingnya musang. ”Maksudnya, mereka lurus dan teguh dalam melaksanakan sebagian besar ketaatannya kepada Allah, baik dalam keyakinan, ucapan maupun perbuatan dan mereka  terus-menerus berbuat begitu (sampai mati). Demikianlah pendapat sebagian besar para mufassir. Begitu pula firman Allah:

“Maka hendaklah kamu beristiqamah seperti yang diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Huud ayat 112).
Menurut Ibnu Abbas, tidak satu pun ayat Al-Qur’an yang turun kepada Nabi yang dirasakan lebih berat dari ayat ini. Oleh sebab itu, Nabi pernah bersabda :
“Aku menjadi berubah karena turunnya surat Huud dan sejenisnya.
Abul Qasim Al Qusyaifi berkata: “Istiqamah adalah satu tingkatan yang menjadi penyempurnaan dan pelengkap semua urusan. Dengan Istiqamah, segala kebaikan dengan semua aturannya dapat diwujudkan. Orang yang tidak istiqamah di dalam melakukan usahanya, pasti sia-sia dan gagal. “Ia berkata pula: “Ada yang berpendapat bahwa istiqamah itu hanyalah bisa dijalankan oleh orang-orang besar, karena istiqamah adalah menyimpang dari kebiasaan, menyalahi adat dan kebisaan sehari-hari, teguh di hadapan Allah dengan kesungguhan dan kejujuran. Oleh karena itu, Nabi bersabda:
‘Istiqamah kamu sekalian, maka kamu akan selalu diperhitungkan orang”
Al Washiti berkata: “Istiqamah adalah sifat yang dapat menyempurnakan kepribadian seseorang dan tidak adanya sifat ini rusaklah kepribadian seseorang.

C.      Keutamaan Istiqamah
Istiqamah memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh sifat-sifat lain dalam Islam. Diantara keutamaan istiqamah adalah :
1.    Istiqamah merupakan jalan menuju ke surga, seperti yang telah dijelaskan dalam firman Allah dalam surat Fusshilat ayat 30 :



“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.
Berdasarkan ayat di atas, istiqamah merupakan satu bentuk sifat atau perbuatan yang dapat mendatangkan ta’yiid (pertolongan dan dukungan) dari para malaikat.
2.      Istiqamah merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah swt.
Dalam sebuah hadits digambarkan : Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)
Berdasarkan hadits di atas, kita juga diperintahkan untuk senantiasa beristiqamah, yang artinya bahwa Istiqamah merupakan pengamalan dari sunnah Rasulullah saw.
3.      Istiqamah merupakan ciri mendasar orang mukmin.
Dalam sebuah riwayat digambarkan: Dari Tsauban ra, Rasulullah saw. bersabda, ‘istiqamahlah kalian, dan janganlah kalian menghitung-hitung. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat. Dan tidak ada yang dapat menjaga wudhu’ (baca; istiqamah dalam whudu’, kecuali orang mukmin.) (HR. Ibnu Majah)

D.      Cara untuk Merealisasikan Istiqamah
Setelah kita memahami mengenai istiqamah secara singkat, tinggallah kenyataan yang ada dalam diri kita semua. Yaitu, kita semua barangkali masih jauh dari sifat istiqamah ini. Kita masih belum mampu merealisasikannya dalam kehidupan nyata dengan berbagai dimensinya. Oleh karena itulah, perlu kiranya kita semua mencoba untuk merealisasikan sifat ini. Berikut adalah beberapa kiat dalam mewujudkan sikap istiqamah :
1.    Mengikhlaskan niat semata-mata hanya mengharap Allah dan karena Allah swt. Ketika beramal, tiada yang hadir dalam jiwa dan pikiran kita selain hanya Allah dan Allah. Karena keikhlasan merupakan pijakan dasar dalam bertawakal kepada Allah. Tidak mungkin seseorang akan bertawakal, tanpa diiringi rasa ikhlas.
2.    Bertahap dalam beramal. Dalam artian, ketika menjalankan suatu ibadah, kita hendaknya memulai dari sesuatu yang kecil namun rutin. Kerutinan inilah yang insya Allah menjadi cikal bakalnya keistiqamahan.
3.    Diperlukan adanya kesabaran. Karena untuk melakukan suatu amalan yang bersifat kontinyu dan rutin, memang merupakan amalan yang berat. Karena kadangkala sebagai seorang insan, kita terkadang dihinggapi rasa giat dan kadang rasa malas.
4.    Istiqamah tidak dapat direalisasikan melainkan dengan berpegang teguh terhadap ajaran Allah swt. Allah berfirman QS. Ali Imron 101 :
“Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
5.      Istiqamah juga sangat terkait erat dengan tauhidullah. Oleh karenanya dalam beristiqamah seseorang benar-benar harus mentauhidkan Allah dari segala sesuatu apapun yang di muka bumi ini. Karena mustahil istiqamah direalisasikan, bila dibarengi dengan fenomena kemusyrikan, meskipun hanya fenomena yang sangat kecil dari kemusyrikan tersebut, seperti riya.
6.      Istiqamah juga akan dapat terealisasikan, jika kita memahami hikmah atau hakekat dari ibadah ataupun amalan yang kita lakukan tersebut. Sehingga ibadah tersebut terasa nikmat kita lakukan. Demikian juga sebaliknya, jika kita merasakan ‘kehampaan’ atau ‘kegersangan’ dari amalan yang kita lakukan, tentu hal ini menjadikan kita mudah jenuh dan meninggalkan ibadah tersebut.
7.      Istiqamah juga akan sangat terbantu dengan adanya amal jama’i. Karena dengan kebersamaan dalam beramal islami, akan lebih membantu dan mempermudah hal apapun yang akan kita lakukan. Jika kita salah, tentu ada yang menegur. Jika kita lalai, tentu yang lain ada yang mengnigatkan. Berbeda dengan ketika kita seorang diri. Ditambah lagi, nuansa atau suasana beraktivitas secara bersama memberikan ‘sesuatu yang berbeda’ yang tidak akan kita rasakan ketika beramal seorang diri.
8.      Memperbanyak membaca dan mengupas mengenai keistiqamahan para salafuna shaleh dalam meniti jalan hidupnya, kendatipun berbagai cobaan dan ujian yang sangat berat menimpa mereka. Jusrtru mereka merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan tersebut.
9.      Memperbanyak berdoa kepada Allah, agar kita semua dianugerahi sifat istiqamah. Karena kendatipun usaha kita, namun jika Allah tidak mengizinkannya, tentulah hal tersebut tidak akan pernah terwujud.














BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Berdasarkan asal katanya, Istiqamah berasal dari bentuk mashdar istaqama yang berarti tegak dan lurus. Sedangkan dari segi istilahnya dan substansinya, menurut Abu Bakar al-Shiddiq, istiqamah adalah bahwa engkau tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun. Sedangkan menurut Umar bin Khatab, Istiqamah adalah bahwa engkau senantiasa lurus/konsisten dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, serta tidak menyimpang seperti menyimpangnya rubah. Dan makna istiqamah menurut Imam Nawawi adalah senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah.
Adapun kesimpulan hadis diatas yaitu bahwa sesungguhnya tidak dapat dipisahkan antara iman dan istiqamah. Karena konsekwensi iman adalah istiqomah. Sedangkan istiqomah merupakan keharusan dari adanya keimanan kepada Allah swt. Oleh karenanya dalam keseharian, kita cukup dengan hanya penempaan keimanan melalui sarana-sarana tarbiyah.
Se-shaleh-shalehnya seorang yang shaleh, tetap merupakan seorang manusia biasa yang tentunya tidak akan luput dari noda dan dosa. Ketika berinteraksi mengamalkan nilai-nilai tarbawi di daerah yang baru dan berbeda, tentunya akan ada banyak lobang menganga yang siap “menelan” langkah-langkah kakinya. Seperti salah dalam bertindak, sifat emosi dan marah, salah memberikan kebijakan dan lain sebagainya. Namun jika semua kesalahan tersebut “diakui” serta kemudian diperbaiki, maka insya Allah, hal ini merupakan bagian dari istiqamah. Namun sebaliknya, jika kesalahan tersebut semakin menyeretnya pada jurang kemurkaan Allah SWT, maka tentunya ia akan semakin terperosok dalam lembah kenistaan yang mendalam.


[1] Imam Nawawi. Ringkasan Riyadhush Shalihin Edisi Bahasa Indonesia.(Bandung : Irsyad Baitus salam,2006).hlm.252
[2] Ibnu Daqiq Al ‘Ied.Syarah Hadits Arbain Imam Nawawi.(Yogyakarta:Media Hidayah,2001).hlm.105
[3] http://hifzhanberau.wordpress.com/2009/05/22/sebuah-hadist-tentang-istiqomah/
[4] Ibnu Daqiq Al ‘Ied.Syarah Hadits Arbain Imam Nawawi.(Yogyakarta:Media Hidayah,2001).hlm.105-106

Tidak ada komentar:

Posting Komentar